zamroni Salim

Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPSK-LIPI) menjalankan program nasional bertajuk “Global Village” (GV) untuk memperkuat peran ilmu sosial dan kemanusiaan melalui frontier research (penelitian terdepan). Selama ini, ilmu sosial dan kemanusiaan seringkali dipandang sebelah mata dan dinilai kurang berkonstribusi dalam pembangunan.

 

Hal itu disampaikan oleh Zamroni Salim, Koordinator Program Global Village, Selasa (12/7/2016), yang ditemui di ruang kerjanya di Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Gedung Widya Graha LIPI Jakarta.

 

“Kami ingin membangun frontier research dengan membangun teori-teori baru, diskursus-diskursus, maupun kritik terhadap teori dan kajian yang ada. Hal ini, tentu saja, dimaksudkan untuk memperkuat peran ilmu sosial dan kemanusiaan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global yang berimplikasi pada penguatan masyarakat dan negara,” kata Zamroni.

 

Global Village adalah program nasional. Seperti dikemukakan oleh Zamroni, program GV menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sesuai dengan usulan Badan Penyelenggara Pembangunan Nasional (Bappenas).

 

Agenda Kegiatan

Kendati sudah dimulai sejak tahun 2015, program GV pada tahun 2016 mengalami penajaman kembali (refocusing) untuk mewujudkan frontier research. Pencapaian tujuan tersebut setidaknya dilakukan melalui empat kegiatan utama.

 

Zamroni yang juga peneliti perdagangan internasional, khususnya di Asia Timur, mengatakan, program GV dimulai dengan penguatan internal melalui pembangunan frontier research di lingkungan Kedeputian IPSK-LIPI. “Sesuai dengan hasil sidang panelis pada 27 Juni lalu, tiga penelitian setidaknya terlibat dalam program GV tahun ini,” katanya. “Pertama, ada penelitian Globalisasi dan Industri Kreatif di Asia Tenggara yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (PSDR). Berikutnya, ada penelitian P2E yang berjudul Membangun Daya Saing Inklusif Daerah. Dan, juga, Multikulturalisme dan Nasionalisme untuk Pembangunan Bangsa yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (P2KK),” jelas Zamroni.

 

Program GV tidak saja dimaksudkan untuk penguatan internal, tetapi juga penguatan eksternal. Menurut Zamroni, mulai tahun 2017, program GV akan membuka Frontier Research Fellowship yang memberikan kesempatan bagi seluruh peneliti di Indonesia, baik individu maupun kelompok, untuk berpartisipasi dalam penguatan peran ilmu sosial dan kemanusiaan melalui frontier research.

 

Penelitian selalu terkait dengan metodologi. Oleh karena itu, Doktor lulusan Universitas Nagoya-Jepang ini menyebutkan adanya Capacity Building for Frontier Research Methodology sebagai salah satu agenda program GV. Kegiatan ini akan dilakukan dalam bentuk lokakarya metodologi dengan mendatangkan pakar, baik dari dalam maupun luar negeri.

 

“Selain itu, jurnal internasional menjadi target GV. Kami meminta seluruh peneliti untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya dalam jurnal internasional,” imbuh Zamroni.

 

Berbeda dengan ilmu sains yang berwujud konkret, ilmu sosial dan kemanusiaan acapkali dianggap abstrak. Bahkan, keberadaannya seperti tak dapat dirasakan dalam pembangunan. Melalui program GV, Kedeputian IPSK-LIPI dan Bappenas berharap untuk mewujudkan frontier research yang dapat memperkuat peran ilmu sosial dan kemanusiaan yang diharapkan berimplikasi (dalam jangka panjang) bagi pembangunan Indonesia. (AH)

  

global village 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

<Sumber Foto: Dokumentasi Relaunching Program Global Village>